Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2015

Islam Nusantara; Berbahaya bagi Kesatuan umat di masa Mendatang


sumber gambar "kotak-kotak": www.bertutur.com
dengan edit dari Microsoft Paint

Oleh: Bobby Rizky Irawan

Beberapa  minggu ataupun beberapa bulan ini sedang ramai dibicarakan isyu mengenai Islam Nusantara. Islam Nusantara dipandang sebagai perubahan wajah islam dengan corak budaya nusantara dengan masyarakat yang heterogen seperti Indonesia. Islam Nusantara dipandang sebagai konsep yang berbeda dengan  islam “Arab” seperti yang terlihat pada wajah-wajah ke-islam-an di timur tengah yang selalu bercekcok. Islam Nusantara dianggap sebagai jalan “Islam yang terbaik” karena dapat mengakomodasi segala ke-warna-warni-an bangsa Indonesia namun tetap padu dan sangat jarang terjadi konflik; khususnya keagamaan.

Selasa, 14 Juli 2015

Kenapa Marxisme masih diminati? Dan Analisis generasi Young Punk


Puasa harusnya produktif! Itulah idealnya, namun ternyata puasa yang hari-hari terakhir ramadhan tahun 2015 dimana persediaan lemak sebagai cadangan makanan di daging tubuh semakin menipis membuat produktifitas menurun drastis, khususnya dalam bidang pemikiran dan tulis menulis seperti ini. Tenaga yang tersisa lebih diprioritaskan untuk kegiatan lain.
Sebelumnya ingat sebuah janji untuk sekedar menulis tentang teman-teman kelas CB di blog yang sederhana ini, sebagai pengingat kawan-kawan yang sudah berubah menjadi saudara tesebut kepada Eva. Iya deh nanti saya coba tulis, tapi temanya apa ya? Yang sesuai dengan minat saya di bidang ilmu sosial, ekonomi, filsafat, dan ilmu teman-temannya itu. Cerita tentang perjalanan dan dolen-dolen kita waktu kuliah? Ah tema tentang  nostalgia dan romantisme masa lalu itu kurang seru sepertinya.
Lama berselang akhirnya tema tulisan itu datang ketika ada acara buka bersama dengan kawan-kawan dan bertemu kembali dengan  Bu Pipit. Bu Pipit putri seorang dosen saya, Islamisme oriented  ketika masa kuliahnya sampai sekarang. Partner yang baik untuk diskusi sekadar membahas masalah Marxisme dan ke-islaman. Sekarang sudah menjadi ibu dari seorang putra yang manis. Setelah buber, mendekati saya sambil menggendong putranya. “Bob, PKI bangkit lagi di kampus-kampus ya?” Melongo sejenak. “Masak Bu Pipit? Tau darimana?” Singkat kata, ternyata Bu Pipit baru saja menghadiri sebuah acara di lingkungan kampus (sebuah kampus diluar kampus UB menurut Bu Pipit) dan ternyata ada beberapa narasumber (atau peserta?) yang mengungkit-ungkit lagi tema sosialisme dari Mbah Marx (Karl Marx). Dan tentunya dengan penjelasan disertai dengan semangat yang menggebu-gebu (menurut Bu Pipit), dan tentunya siapa lagi yang harus diberitahu ‘berita penting’ ini oleh Bu Pipit selain saya. Okelah.

Minggu, 21 Juni 2015

Beda Paradigma antara Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Kewahyuan



Prolog:

Memasuki bulan puasa yang sangat panjang ini akhirnya berteman kembali dengan buku-buku dan membuat artikel yang dipublish kembali ke blog yang sudah lama kosong. Artikel banyak dari kemarin, tetapi belum dipublish karena sibuk sekali waktu kemarin-kemarin. Pinginnya sih untuk come-back publish artikel yang pertama adalah artikel ‘Do It Yourself “Kuras Tangki Bensin New Mega Pro” gara-gara si Samid yang interest masalah ini waktu saya dan teman-teman berkumpul, namun apa daya artikel tersebut ketlisut (bukan hilang loo) meninggalkan foto-fotonya saja, artikel perlu dicari dan memakan waktu juga. Akhirnya ilham itu datang juga ketika penjelasan saya mengenai kata-kata “nabi” di debat oleh Eva teman saya lewat BBM. Eva mendebat kenapa saya menggunakan kata nabi untuk seorang tokoh bernama Karl Marx. Menurut Eva, nabi ya nabi! seorang pembawa wahyu keagamaan yang ilmunya berasal dari langit. Meskipun saya menjelaskan bahwa karl Marx memang dapat dianggap nabi oleh pengikut-pengikutnya atau kaum komunis. Kata nabi saya perluas bukan hanya seorang tokoh yang membawa informasi dari langit atau dari Tuhan atau dapat juga disebut ke-wahyu-an, namun lebih luas lagi, Nabi dipandang sebagai orang yang dapat mempengaruhi orang per orang, masyarakat per masyarakat dengan pendapat dan pikirannya. Nabi menurut saya bukan hanya orang yang membawa pesan dari langit (saja) melainkan semua pembawa pesan/informasi yang pengaruhnya sangat luas di masyarakat. Perdebatan itupun akhirnya berakhir dengan kata-kata “aku ngelu Bob (Aku pusing Bob)..........” Tetapi obrolan itu akhirnya membuat saya mendapat ilham untuk menuliskan artikel  dengan judul diatas. Mengenai pemahaman saya tentang filsafat, kewahyuan dan ilmu pengetahuan. Selamat membaca.

Minggu, 22 Februari 2015

PANTA RHEI




Menarik menilik ucapan seorang Heraklius yang juga digunakan oleh Tatiana Lukman (putri dari M.H  Lukman) untuk memberi judul pada bukunya (sejarah + otobiografi). Panta Rhei. Berarti terus mengalir.

 Memang hidup akan selalu mengalir seperti air, analogi yang sering digunakan, sangat umum untuk menggambarkan hidup. Seperti air yang mengalir. Meskipun terkadang memang lebih mudah untuk mengatakannya bahkan meng-analogi-kan-nya dibandingkan dengan men-jalan-kan-nya.

Guru besar kehidupan, sang Budha dan Zen (salah satu aliran dalam agama Budha) lebih menyukai mendekati hidup sebagai ketidak-tetapan, segala sesuatunya terus berjalan, suka-duka dilihat sebagai hal yang sama, keduanya akan dirasakan, keduanya pun akan terus berlalu. Jika dirasakan sama pulalah hal tersebut, sama-sama mengalir, suatu ketika akan bertemu namun jangan terkejut bila suatu ketika akan berlalu juga. Saya pribadi adalah umat Muhammad (Islam), namun Saya menggemari ‘pelajaran-pelajaran tambahan’ ini karena saya merasa ilmu akan terus berkembang, sebab itulah saya juga sangat menggemari buku-buku Budha, buku Mahabaratha (kisah-kisah kepahlawanan dari Hindu), dan tak jarang injil yang berisi kisah hidup Nabi Isa (Yesus Kristus ) pun saya ‘lahap’ di waktu-waktu senggang saya. Kenyang-kenyang deh.

Jumat, 28 November 2014

Perkembangan Pandangan "Kiri" Kini


Di wilayah Indonesia pandangan materialisme, Marxisme, Leninisme dan pandang-pandangan lain yang terkait dengan sebutan pandangan-pandangan kiri masih dianggap tabu dan terlarang untuk di blow up ke permukaan, terlarang untuk dibahas-didiskusikan, yang paling penting terlarang untuk disebarluaskan. Bukan karena apa, larangan itu memang ada dan tertuang dalam TAP MPRS No.26 tahun 1966 ketika puncak terjadinya resistensi terhadap PKI dan Marhaneisme, ideologi sosialis yang di-Indonesia-kan.
Sampai sekarang pun  masyarakat kebanyakan memandang pandangan-pandangan kiri sebagai musuh atau minimal sebagai suatu hal yang jelek, ada satu kalimat menarik dalam bahasa jawa yang digunakan sampai saat ini, kalau anda-anda sekalian pembaca mempunyai anak-anak yang nuakal, bengal dan sulit diatur maka anda akan mengistilahkan anak anda sebagai “arek senengane ngiwo ae (anak kok sukanya ke kiri saja)”, apakah maksudya? Maksudnya adalah anak yang sulit diatur, istilah jowo nya “angel kandan-kandanan e” (sulit diberi tahu/bengal). Dari kalimat itu kan aneh, kenapa kok bukan arah kanan bila anak sulit diatur dan dianggap salah, dan lagi  jika anak-anaknya menurut kata-kata orang tua dan berada pada “jalan yang benar”  adalah jalan yang lurus (straight way) istilahnya lurus-lurus saja. Dari kalimat diatas juga dapat “dipastikan” bahwa arah kanan jauh lebih baik dari arah kiri, namun yang terbaik adalah jalan yang lurus, padahal belok kanan-kiri sama-sama belok juga kan tidak mengikuti jalan lurus, hehehe.
Oke logika kalimat diatas hanya sebagai prolog saja, come back to the story, setelah tumbangnya orde baru dan masuknya orde reformasi tulisan-tulisan bahkan buku-buku yang terkait dengan pandangan kaum kiri ini mulai banyak bermunculan, hal yang sangat tidak mungkin bila terjadi pada jaman orde baru karena percetakan selalu diawasi dan sebelum terbit buku-buku harus mendapatkan ijin. Lalu bagaimana perkembangan pandangan-pandangan kiri itu sekarang? Ah saya mau cerita lagi, kemarin dulu saya pernah menemukan sebuah buku yang bagus,judulnya “Dialektika Marxisme” penerbit tidak tahu tapi kover buku berwarna hijau dengan gambar Mbah Marx (Karl Marx) besar tampil sebagai kovernya. Jumlahnya lima biji, ada keinginan untuk membelinya namun karena tidak membawa uang lebih apalagi kartu debit juga tidak punya akhirnya saya berfikir kapan-kapan saja saya akan membelinya. Seminggu kemudian ketika saya kembali ke toko buku itu ternyata buku hijau sejumlah lima biji di rak bagian filsafat itupun lenyap, tanya ke database komputer ternyata memang kosong, sold out! Padahal baru sekitar seminggu  saya tinggal, waduh akhirnya beli deh komik “agen polisi 212” salah satu komik yang menjadi favorit saya.
Dari cerita diatas dapat ditemukan betapa cepat habisnya buku padangan kaum kiri itu, contohnya buku “dialektika Marxisme” itu, saya pernah melihat bagian belakang buku itu sebelum mengembalikannya di rak, baca-baca ringkasan isi bukunya, sepertinya sih memang buku “canon” (ambil istilah buku-buku Sherlock Holmes) atau buku-buku karya pengarang aslinya (dalam hal ini Marx atau Engels) sendiri  dan bukan buku-buku “tambahan” sesudahnya. Menarik bukan, berarti meskipun pandangan kiri dianggap masih terlarang di wilayah Indonesia yang bisa dilihat dari belum dicabutnya TAP MPRS pada jaman orde baru sampai sekarang, namun bukan berarti padangan kiri itu sudah mati “beneran” di nusantara ini, sepertinya orang-orang berpandangan kiri hanya mati suri saja dan menunggu waktu untuk tampil dan blow up di permukaan. Inilah yang menjadi ketakutan di era orde baru sampai-sampai ada jargon “waspada bahaya laten Komunis”, istilah laten adalah sebuah pemikiran tak tampak diluar tetapi beneran ada didalam, seperti api dalam sekam dan seperti hantu. A haunted ghost.
Lama kemudian, jargon seperti ini semakin lenyap, Indonesia sedang menghadapi hantu baru yang lebih nyata dan lebih merusak selain Komunisme, hantu  korupsi sepaket dengan koruptor-nya ditambah dengan produk hukum yang masih “menyayangi” tindak pidana ini, sehingga muncul jargon baru dari KPK yang lebih menohok “waspada bahaya laten korupsi”. Ketika dahulu yang harus waspada penyelenggara negara kepada rakyatnya agar tidak tahu-menahu pandangan-pandangan kiri, kini malah terbalik penyelenggara negara yang diawasi oleh rakyatnya untuk menghindari  laten korupsi. That’s a better world isn’t?

Sebenarnya saya juga tertarik dengan pemikiran Marxisme ini, pemikiran yang mengedepankan logika dan hal-hal material, karena logika tidak dapat berjalan kalau hal-hal yang di-logika-kan tidak material alias berbentuk gaib dan mengambang diawang-awang, jadinya kalaulah Marxisme memang beneran sedang berkembang meskipun tak nampak saya sih setuju-setuju saja, namun efek sejarah perkembangan Marxisme perlu diwaspadai juga. Revolusi Marxisme tidak pernah menuju kedalam Revolusi damai  (istilah Mahatma Gandhi) melainkan revolusi yang cenderung berdarah  dan “menghabisi” musuh-musuh Marxisme itu sendiri. Itulah yang harusnya dikendalikan bahkan mungkin harus dihindari. Dan juga yang perlu dihindari dalam keadaan “damai” seperti keadaan saat ini adalah istilah komunis sebagai senjata politik untuk menjatuhkan lawannya, entah memang lawannya itu komunis “betulan”, influenced by Marxism and communism, atau malah jadi kambing hitam saja.